Saturday 19 Jumadil Akhir 1443 / 22 January 2022. Menu. HOME; RAMADHAN Kabar Ramadhan; Puasa Nabi; Tips Puasa
HikmahKISAH – KISAH PENUNTUT ILMU (2) MENGULANG-ULANG MEMBACA SUATU KITAB HINGGA BERKALI-KALI Al-Muzani berkata: Aku telah membaca
Kisahyang termuat dalam kitab al-Adab al-Mufradkarya Imam Bukhari itu, menggambarkan betapa seriusnya para ulama pada zaman dulu dalam mengejar ilmu dan
BONUS: KISAH – – KISAH PENUNTUT ILMU KISAH PENUNTUT ILMU. KESABARAN DAN KESUNGGUHAN MENUNTUT ILMU KESABARAN DAN KESUNGGUHAN MENUNTUT ILMU Ibnu Thahir al-Maqdisy berkata : Ibnu Thahir al-Maqdisy berkata : Aku Aku dua dua kali kali kencing kencing darah darah dalamdalam menuntut ilmu hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah.
PERJALANANSEORANG PENUNTUT ILMU YANG PERLU DITELADANI Cerita yang saya ambil ini adalah kisah manusia di masa ini, dimana sangat langka dan sulit ditemui orang-orang yang memiliki ghiroh yang sama sepertinya dalam tholabul ‘ilm. Perlu diketahui sang suami adalah seorang yang sangat rajin menuntut ilmu, ia adalah seseorang yang
Kisahkisah Ahli Ilmu terdahulu. #Kisah HASAN AL BASRI Telah datang berita gembira kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, bahwa budaknya yang bernama Khairah telah melahirkan seorang bayi laki-laki. Ummul Mukminin hanyut dalam kegembiraan dan wajahnya tampak ceria dan berseri-seri.
Hariini saya menyaksikan peristiwa patah hatinya seorang penuntut ilmu. Namanya Queenza, ia merupakan salah satu peserta tahfiz Al-Qur'an. Sayang sekali, hari ini Queenza merasakan patah hati, karena dia sudah tidak dapat lagi melanjutkan perjuangannya dalam ajang menghafal Al-qur'an tersebut. Queenza kehilangan fokus.
Makajika seorang hamba dibimbing kepada adab mencari ilmu, sungguh dia telah menjaga ilmu dengan tali yang kokoh. Buku ini adalah buku panduan adab penuntut ilmu dan pengajar karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah (w. 733 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang sezaman dengan Imam an-Nawawi.
yMfz1. Kisah Baqi' bin Makhlad, Sang Penuntut Ilmu Sejati Kisah Pencari Ilmu Yang Sejati Source Pada suatu hari Baqi’ bin Makhlad melakukan perjalanan dari Andalus menuju Baghdad dengan berjalan kaki, melewati daratan, lautan, serta gunung–gunung. Ketika itu umur beliau baru 20 tahun. Tujuan beliau melakukan perjalanan tersebut adalah untuk bertemu dengan Al-Imam Ahmad bin Hambal dan menuntut ilmu darinya. Tatkala beliau mendekati Kota Baghdad ternyata sampai kepadanya kabar tentang ujian yang menimpa Al-Imam Ahmad bin Hambal. Dikarenakan beliau rahimahulloh tidak mau berpendapat bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Sampai pula kabar bahwa Al-Imam Ahmad dilarang untuk mengajar dan mengadakan majelis pengajian, beliau dipaksa untuk tinggal di rumahnya. Kemudian Baqi’ berkata “Akupun bersedih dengan kesedihan yang sangat karena hal itu. “ Akan tetapi Baqi’ tetap meneruskan perjalanannya. Setibanya beliau di Baghdad, beliau meletakkan perbekalannya dan pergi menuju masjid Al Kabir🕌 Masjid Agung yang ada di Baghdad. Kemudian beliau pergi mencari rumah Imam Ahmad, maka ditunjukkanlah kepada beliau rumah Imam Ahmad. Kemudian beliau mengetuk pintu rumah dan Imam Ahmad pun membukanya. Baqi’ berkata kepada Imam Ahmad “Aku adalah orang yang asing di negeri ini dan ingin mencari ilmu, tidaklah aku melakukan perjalanan ini kecuali kepadamu.” Kemudian Imam Ahmad bertanya “Di manakah tempat tinggalmu❓" Baqi’ menjawab “Di Barat jauh, aku mengarungi lautan dari negriku menuju ke Afrika.” Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya tempat tinggalmu jauh sekali, dan aku ingin membantumu akan tetapi keadaanku seperti ini, sedang diuji dan ditahan dirumahku.” Maka Baqi’ berkata, “Wahai Abu Abdillah kunyah Imam Ahmad … aku adalah orang yang asing, tidak ada satupun dari orang Baghdad yang mengenaliku, jika engkau mau aku akan datang kepadamu setiap hari akan tetapi dalam bentuk seorang pengemis. Kemudian aku ketuk pintu rumahmu aku meminta shadaqah. Kemudian engkau membacakan kepadaku walaupun satu hadits dalam sehari.” Maka Imam Ahmad berkata “Baiklah … Engkau boleh seperti itu tetapi dengan syarat engkau tidak menceritakan keadaanmu itu kepada Ashhabul Hadits para pencari hadits yang lain, karena nanti mereka akan iri kepadamu” Maka Baqi’ berkata “Aku bawa sebatang kayu di tanganku dan aku balut kepalaku dengan kain kemudian aku masukkan kertas dan penaku di kantong bajuku. Kemudian aku pergi menuju rumah Imam Ahmad dan mengetuk pintu rumahnya dan berteriak meminta shadaqoh “Shadaqah rahimakumullah‼️" Maka kemudian Imam Ahmad keluar menemuiku dan memasukkanku ke rumahnya dan mengunci pintu rumah, kemudian membacakan kepadaku dua atau tiga hadits sehingga terkumpul padaku 300 hadits.” Kemudian suatu hari Allah menghilangkan ujian yang menimpa Imam Ahmad dan diizinkannya beliau untuk mengajar dan mengadakan majelis-majelis taklim. Maka, apabila aku datang di majelis beliau, maka beliau memerintahkan untuk meluaskan tempat duduk untukku dan mendudukkanku di sampingnya. Beliau berkata kepada muridnya, “Ini adalah seorang yang pantas dikatakan “Tholibul Ilmu” penuntut ilmu agama yang sebenarnya.” Kemudian beliau menceritakan kisahku kepada mereka.. -selesai- Referensi Kitab Waratsatul Anbiya’, Asy Syaikh Abdul Malik bin Muhammad Qasim, Hal. 63 – 64. Demikianlah, dengan kepayahan dan rintangan serta semangat yang besar barulah seseorang dikatakan sebagai THALIBUL IMLI Penuntut Ilmu yang sebenarnya. Lantas bagaimana dengan kita⁉️ Admin Almanshuroh Mujur Diposting ulang oleh Sumber Dipublikasikan di situs 19 Jumadil Akhir 1437/26 Maret 2016
home menuntut ilmu Muslimah Senin, 30 Januari 2023 - 0705 WIB Pendidikan bagi wanita dalam Islam sangat ditekankan. Dalam Al-Quran dan Hadis tidak ada larangan menuntut ilmu bagi kaum wanita. Bahkan Islam mewajibkan wanita menuntut ilmu. Hikmah Minggu, 09 Oktober 2022 - 1450 WIB Kisah Abu Bakr ibnu Dulaf ibnu Jahdar asy-Syibli membeli ilmu dari Abul Qasim al-Junaid diambil dari buku The Revelation of the Veiled. Ini adalah tentang kisah masa belajar asy-Syibli di bawah al-Junaid. Tausyiah Sabtu, 17 September 2022 - 1404 WIB Dalam Islam, kesuksesan mencari ilmu bisa diukur melalui sejauh mana ilmu yang diperolehnya memiliki keberkahan dan manfaat baik bagi diri sendiri atau orang lain. Tausyiah Rabu, 31 Agustus 2022 - 1254 WIB Seorang muslim harus punya target dalam hidupnya. Hindari hidup yang mengalir begitu saja karena sesuatu yang mengalir pasti mengalir dari atas ke bawah. Karena itu harus semangat dan punya target dalam hidup. Tips Selasa, 23 Agustus 2022 - 1648 WIB Keberkahan ilmu yang diperoleh akan diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan ilmu. Tausyiah Minggu, 21 Agustus 2022 - 2318 WIB Bagi santri yang mendalami ilmu syariat Islam, perlu mengetahui hal-hal yang menjadi sebab memperoleh ilmu. Dalam syariat, menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Tausyiah Jum'at, 05 Agustus 2022 - 1500 WIB Orang yang berbicara dalam agama ini dengan tanpa ilmu, menjadi penyebab utama munculnya berbagai penyimpangan -penyimpangan dalam agama. Begini penjelasannya. Tausyiah Minggu, 19 Juni 2022 - 1750 WIB Tuntulah ilmu sekalipun di negeri China. Begitu kalimat yang disebut banyak dai sebagai hadis. Para ulama ahli hadis justru menyebut kalimat tersebut bukan hadis. Muslimah Jum'at, 15 April 2022 - 1148 WIB Salah satu amalan yang dapat dilakukan perempuan yang sedang haid saat bulan puasa ini adalah mendengarkan kajian atau majelis taklim sebagai ikhtiar menuntut ilmu Hikmah Jum'at, 18 Februari 2022 - 1730 WIB Dikisahkan, seorang ulama berwudhu 17 kali dalam semalam demi mendapatkan cahaya ilmu. Kisah ini memberi kita pelajaran bahwa pentingnya menjaga wudhu. Tips Kamis, 13 Januari 2022 - 0854 WIB Beragam tipu daya setan untuk menggoda manusia banyak sekali, salah satunya dengan cara talbis dan ghurur. Talbis adalah menampakkan kebatilan dalam bentuk kebenaran,sedangkan ghurur adalah kejahilan. Tausyiah Selasa, 28 Desember 2021 - 2251 WIB ika ingin menjadi orang yang dicintai dan dimuliakan Allah Azza wa Jalla, maka jadilah seorang penuntut ilmu. Berikut alasan mengapa penuntut ilmu dimuliakan Allah. Tausyiah Jum'at, 10 Desember 2021 - 2322 WIB Abah Guru Sekumpul wafat 2005 adalah ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan. Berikut kalam beliau tentang ilmu yang patut kita jadikan iktibar. Hikmah Senin, 29 November 2021 - 2152 WIB Semangat Ulama Salaf terdahulu patut diapresiasi karena semangat mereka menimba ilmu. Mereka benar-benar luar biasa karena punya banyak guru yang jumlahnya mencapai ribuan. Tausyiah Kamis, 25 November 2021 - 2248 WIB Semasa masih nyantri dan hendak belajar kepada gurunya, Imam An-Nawawi memiliki akhlak dan kebiasaan mulia yang dapat kita tiru. Berikut akhlaknya. Muslimah Senin, 22 November 2021 - 1352 WIB Menuntut ilmu agama itu wajib bagi setiap kaum muslimin dan muslimat, lelaki maupun wanita, seperti yang disampaikan dalam sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Tips Jum'at, 08 Oktober 2021 - 1459 WIB Bacaan doa sebelum belajar dan sesudah belajar, sangat baik kita ajarkan kepada anak-anak. Doa-doa pendek ini, akan memudahkan, anak-anak kita dalam menerima pelajaran atau ilmu. Tausyiah Senin, 04 Oktober 2021 - 1537 WIB Ustaz Hamdan Nasution Attantisy mengatakan, Mencintai guru adalah sesuatu yang wajib. Namun, dicintai guru adalah sesuatu yang istimewa. Tausyiah Kamis, 30 September 2021 - 2242 WIB Bagaimana cara belajar Islam agar tidak salah jalan? Jawabannya sederhana, belajarlah sesuai ahlus sunnah yang benar dan ambillah ilmu dari guru bersanad dan bermazhab. Muslimah Minggu, 26 September 2021 - 0510 WIB Orang yang mengajarkan ilmu, menjadi seorang guru, baik guru dalam ilmu agama maupun ilmu dunia mempunyai keutamaan begitu besar. Sebaliknya orang yang enggan membagikan ilmu yang dimilikinya justru akan merugi.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, salawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi yang mulia dan utusan yang paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan kepada seluruh keluarganya serta Ilmu dan Majelis IlmuJalan Mencari IlmuMakna Jalan Menuju SurgaMalaikat Memiliki SayapPenuntut Ilmu dan yang Mengajarkannya Dimohonkan Ampun Seluruh MakhlukPerbandingan Orang Berilmu dan Ahli IbadahNabi Hanya Mewariskan IlmuSesungguhnya seorang manusia akan lapang dadanya, dan tenang hatinya, manakala melihat penuntut ilmu berada di majelis ilmu. Mereka adalah orang yang meninggalkan nikmatnya tidur dan meninggalkan tempat tidur mereka diwaktu banyak orang lain tidur diatas kasur-kasur yang nyaman. Para penuntut ilmu meninggalkan berbagai kenikmatan dan lebih mengutamakan suatu perkara yang mereka berharap mendapatkan keselamatan di dunia, alam barzah, dan akhirat. Sungguh Allah Ta’ala telah memuji-muji para pembawa ilmu dan yang mengajarkannya dengan berfirmanإِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْ“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” QS. Fatir 28Alasan dikhususkan sifat rasa takut kepada ulama karena mereka adalah orang yang paling mengenal Allah. Jika seseorang hamba semakin mengenal Rabb-nya, maka seharusnya dia semakin besar rasa harap dan takutnya kepada adalah sebab keridhoan Allah Ta’ala, dan sebab kehidupan yang baik di dunia, di alam barzah, dan di alam adalah sebab lurusnya sikap dan terdidiknya jiwa. Dia adalah sebab, bagi orang yang ikhlas menuntut ilmu dan dalam mengamalkan ilmu, selamat dari berbagai kejelekan yang banyak macamnya dan jenisnya. Maka pada saat orang-orang yang kita cintai yakni penuntut ilmu berkumpul untuk mengambil ilmu dari sebagian orang-orang yang mereka cintai yakni para ulama atau ustadz, mereka belajar dan mengajar, maka hal ini dinilai sebagai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan termasuk amal yang paling utama. Zaman dulu para pendahulu kita, mereka mengikat pelana-pelana kendaraan mereka dalam rangka mencari ilmu melakukan perjalanan panjang .pent. Demikian pula banyak dari kita telah membaca atau mendengar apa yang dilakukan para ulama hadis dimana mereka telah mengadakan perjalanan panjang. Mereka meyakini لَو لَا الإِسنَاد لَقَالَ مَنشَاءَ مَا شَاءَ“Seandainya bukan karena sanad, niscaya semua orang bisa berbica dalam masalah agama sesuka hati mereka.”Sebagaimana Syu’bah rahimahullah dia mengadakan perjalanan sebulan penuh dalam rangka mencari sebuah hadis yang beliau dengar melalui satu jalur yang belum pernah didapatkannya. Ar-Rihlah fii Talabil Hadits karya Al-Khatib Al-Baghdadi hal. 148Begitu juga Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma – seorang sahabat yang lebih utama dari Syu’bah karena Syubah adalah seorang tabi’in – mengatakan, “Telah sampai kepadaku dari seseorang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebuah hadis yang dia dengar dari Rasululah shallallahu alaihi wa sallam yang aku belum pernah mendengarnya. Maka aku membeli seokar unta, aku pasang pelana diatasnya, lalu aku mengadakan perjalanan selama sebulan penuh hingga aku tiba di Syam. Maka sahabat yang aku maksudkan adalah Abdullah bin Unais Al-Anshari. Kemudian setelah sampai maka aku mengatakan kepada utusan Abdullah bin Unais, Sampaikan bahwa Jabir ada di depan pintu rumah.’ Maka sang utusan tersebut kembali lagi menemui Jabir membawa pertanyaan Abdullah bin Unais. Dia bertanya, Apakah engkau adalah seorang yang bernama Jabir bin Abdillah?’. Maka aku katakan, Betul’. Kemudian utusan tersebut kembali menemui Abdullah bin Unais dan menyampaikan pesanku. Kemudian Abdullah bin Unais keluar menemuiku. Maka dia memelukku dan akupun memeluknya. Aku katakan kepada Abdullah bin Unais, Ada sebuah hadis yang sampai ke telingaku bahwasannya engkau telah mendengar hadis tersebut dari Rasulullah tentang masalah tindakan kedzaliman yang aku belum pernah mendengar hadis tersebut dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan aku khawatir aku mati atau engkau mati terlebih dahulu sebelum aku sempat mendengarnya.’” Ar-Rihlah fii Talabil Hadits karya Al-Khatib Al-Baghdadi hal. 110Perhatikan bagaimana Jabir sangat perhatian terhadap ilmu. Dia tidak mencukupkan diri hanya tahu saja. Akan tetapi Jabir ingin ilmu yang beliau dapatkan valid langsung dari sumbernya. Terverifikasi dan tervalidasi ilmunya. Ini diantara semangat generasi awal umat Islam dalam mencari pula Abu Zur’ah, Muhammad bin Nashr, dan lainnya mereka melewati gurun pasir dengan berjalan kaki. Semua ini dilakukan dalam rangka mencari ilmu. Mereka menempuh jarak yang sangat jauh yang mana kendaraan tungangan pun pasti kelelahan. Perjalanan yang diiringi keletihan dan kesusahan. Meskipun demikian, nikmatnya ilmu yang Allah azza wa jalla letakkan dihati mereka membuat mereka lupa dari jauhnya ungkapan indah yang disampaikan Ibnul Qayyim rahimahullahكل ما كان في القرآن من مدح للعبد فهو من ثمرة العلم، و كل ما كان فيه من ذم للعبد فهو من ثمرة الجهل“Semua pujian dalam Alquran yang termasuk pujian kepada hamba maka itu semua dikarenakan buah ilmu, dan semua celaan yang ada dalamnya Alquran yang termasuk celaan kepada hamba maka itu semua adalah buah kebodohan nihilnya ilmu dan/atau amal.” Ma’alim fii Thariq Thalabul Ilmi, Hal. 15Ilmu – sebagaimana yang dikatakan Al-Hasan Al Bashri – adalah rasa takut kepada Allah. Maka siapa saja yang lebih berilmu tentang Allah maka harusnya dia lebih memiliki rasa takut kepada Allah. Para ulama terdahulu telah menulis banyak buku khusus membahas keutamaan ilmu, tentang akhlak orang yang memiliki ilmu, dan keutamaan para ulama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصنَعُ ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِر“Barangsiapa yang menempuh jalan yang dijalan tersebut dia mencari ilmu maka Allah akan membuat dirinya menempuh jalan diantara jalan-jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya untuk para penuntut ilmu karena suka dengan apa yang dia lakukan. Sesungguhnya seluruh makhluk di langit dan di bumi akan memohonkan ampunan kepada orang yang berilmu, termasuk ikan ditengah-tengah air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya dibandingkan ahli ibadah yang beramal tanpa ilmu bagaikan keutamaan rembulan dimalam hari saat bulan purnama dibandingkan seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak dirham dan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” Shahih jaami’ 5/302Baca Juga Keutamaan Belajar Ilmu AgamaJalan Mencari IlmuDalam hadis ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang menempuh jalan yang dijalan tersebut dia mencari ilmu …” maksud dari “jalan” disini dapat dimaknai dengan dua pengertian. Jalan yang nyata dan imajiner. Jalan yang nyata contohnya seperti usaha seseorang menempuh perjalanan untuk datang ke majelis ilmu, melakukan safar dalam rangka mencari sebuah hadis, dan lain sebagainya. Maka ini dikatakan sebagai jalan yang nyata. Sedangkan jalan yang imajiner dapat diartikan sebagai usaha untuk menulis, menghafal, mencatat, dalam rangka dia mempelajari ilmu. Oleh karena itu, semua orang yang menempuh jalan nyata maupun imajiner untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan membuat orang tersebut menempuh suatu jalan diantara berbagai jalan menuju surga. Makna Jalan Menuju SurgaPertama, jalan menuju surga maknanya adalah ibadah. Orang yang beribadah kepada Allah adalah orang yang berjalan menuju surga. Maknanya dengan seseorang mempelajari ilmu tentang agamnya maka akan membuat orang tersebut giat beribadah. Orang tersebut semakin banyak mengetahui ibadah apa sajakah yang dapat mendekatkan dirinya kepada surga. Semakin banyak ilmu, maka semakin banyak pula pengetahuan tentang amal shalih dan amalan yang bernilai ibadah disisi allah. Ilmu tersebut membuat dia bisa mengerjakan ibadah dan semakin semangat untuk melakukannya. orang yang menuntut ilmu karena Allah membuahkan hasil pengetahuannya tentang jalan surga semakin banyak dan seharusnya membuat dia semakin semangat untuk memperbanyak amalan-amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Kedua, jalan menuju surga maknanya adalah ilmu itu sendiri. Artinya Allah mudahkan kepadanya ilmu. Ilmu tersebut adalah jalan menuju surga. Baca Juga Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu AgamaMalaikat Memiliki SayapDalam hadis ini juga menjelaskan bahwa malaikat itu memiliki sayap. Sebagaimana dalam firman Allahٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ١“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai macam urusan yang mempunyai sayap, masing-masing ada yang dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Fatir 1Maka dalam hadis ini kita mengimani sebagaimana konteks hadis bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “para malaikat meletakkan sayap-sayapnya …”. Penuntut Ilmu dan yang Mengajarkannya Dimohonkan Ampun Seluruh MakhlukOrang yang berilmu dan yang mengajarkannya akan dikenal seluruh makhluk. Makhluk-makhluk tersebut akan memohonkan ampun atasnya kepada Allah. Sampai-sampai didalam hadis dikatakan, “… ikan ditengah-tengah air” mereka semua memohonkan ampunan kepada orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agama. Ada dua penjelasan ulama tentang maksud “… seluruh makhluk di langit dan di bumi akan memohonkan ampunan kepada orang yang berilmu …”. Pertama, karena degnan mempelajari ilmu agama manusia memperlakukan hewan-hewan dengan layak. Sebaliknya, jika ilmu agama tidak tersebar, hadis-hadis tidak dipelajari, ajaran islam tentang berbuat baik kepada hewan tidak diketahui, maka orang pun melakukan kezaliman kepada binatang-binatang. Maka para hewan akan mendapatkan perlakuan kasar karena kebodohan manusia. Kedua, alasannya karena ilmu agama adalah sebab timbulnya kebaikan, amal shalih, ketaatan, yang menyebabkan tidak rusaknya ekosistem yang ada di muka bumi ini. Sebaliknya, jika manusia berada dalam kebodohan menyebabkan manusia jatuh kedalam kemaksiatan. Kemaksiatan yang dilakukan manusia menyebabkan Allah menimpakan musibah dan bencana. Musibah dan bencana ini akan berdampak pula pada hewan dan makhluk hidup lainnya. Sebagaimana Allah berfirmanظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” QS. Ar-Rum 41Baca Juga Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta BendaPerbandingan Orang Berilmu dan Ahli IbadahKeutamaan orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya dengan orang yang giat ibadah tanpa didasari ilmu yang mapan bagaikan rembulan diantara bintang-bintang. Rembulan yang bersinar manfaatnya luas dibandingkan dengan bintang-bintang. Nabi Hanya Mewariskan IlmuKemudian dalam hadis tersebut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “… ulama adalah pewaris para nabi, …” Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka mendapatkan warisan berupa agama dan ilmu agama. Hal ini menunjukkan bahwa agama adalah warisan dari Rasulullah. Artinya tidak boleh ada kreasi pengurangan atau penambahan dalam beragama. Maka perhatikan, bagaimana agama yang Rasulullah wariskan? Bagaimana akidah yang Rasulullah wariskan? Bagaimana sholat yang Rasulullah wariskan? Bagaimanakah puasa yang Rasulullah wariskan? Maka itu semua adalah agama yang benar. Oleh karena itu, kita tinggal belajar kepada para ulama bagaimanakah agama yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wariskan kepada tidak mewariskan dinar dan dirhamDalam hadis dikatakan, “… dan para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak dirham dan mereka mewariskan ilmu.” Mereka tidaklah mewariskan kepada keturunan maupun umatnya harta. Seandainya mereka mati dengan meninggalkan harta, maka hartanya akan dibagikan untuk kepentingan sosial. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun saat meninggal tidak mewariskan hartanya kepada keluarganya lihat HR. Bukhari No. 3988 dan Muslim No. 1759 . Ini adalah bukti bahwasannya dakwah para nabi ikhlas karena Allah. Seandainya para nabi mewariskan dinar dan dirham maka boleh jadi ini menjadi pintu bagi sebagian orang mencela dakwah nabi. Mereka akan berpikiran negatif bahwa semangat nabi bertujuan untuk menumpuk kekayaan yang akan diwariskan kepada anak keturunannya. Akan tetapi tidak demikian, sehingga manusia tidak memiliki alasan untuk mencela dakwah para nabi karena mereka berdakwah semata-mata menginginkan manusia mendapat hidayah, menginginkan manusia selamat dari neraka, terhindar dari kesesatan, dan supaya manusia masuk ke dalam surga Allah. Betapa indahnya perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah beliau mengatakan ولو لم يكن في العلم إلا القرب من رب العالمين، والالتحاق بعالم الملائكة و صحبة الملأ الأعلى؛ لكفى به شرفاً و فضلاً، فكيف و عِزّ الدنيا و الآخرة منوط به، مشروط بحصوله؟“Seandainya tidak ada dalam keutamaan ilmu kecuali hal itu akan menjadi sebab dekatnya dengan Allah tuhan semesta alam, dan akan tergabung dengan para malaikat dan bersahabat dengan al malaail a’la para malaikat; maka cukuplah ini menjadi keistimewaan dan kemuliaan. Maka bagaimana lagi jika kemuliaan hidup di dunia dan akhirat tergantung dengan ilmu, disyaratkan dengan diperolehnya ilmu?” Miftahu Daarus Sa’adah 1/108Baca JugaDiambil dari Kitab Ma’alim fii Thariq Thalabul IlmiPenulis Azka HarizArtikel